Menangkap Ikan Menggunakan Cahaya


Sumber: Berita Iptek Topik: Pangan   Tags: electrical light, penangkapan ikan
Menangkap ikan, adalah kegiatan perburuan seperti halnya menangkap harimau, babi hutan atau hewan-hewan liar lainnya di hutan. Karena sifatnya memburu, menjadikan kegiatan penangkapan ikan mengandung ketidakpastian yang tinggi. Untuk mengurangi ketidakpastian hasil tangkapan ikan tersebut, nelayan sudah sejak lama menggunakan sarana “cahaya” sebagai alat bantu penangkapan ikan. 
Sebelum teknologi electrical light berkembang dengan pesat seperti sekarang ini, nelayan-nelayan di berbagai belahan dunia menggunakan cahaya lampu obor sebagai alat bantu penangkapan ikan. Pada awalnya penggunaan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan hanya terbatas pada perikanan tradisional yang terletak di pantai saja, seperti perikanan pukat pantai, sero, dan beberapa alat tangkap bagan lainnya. Namun, seiring dengan berkembangnya kegiatan perikanan tradisional menjadi industri, pemanfaatan cahaya sebagai alat bantu berkembang luas untuk membantu penangkapan ikan pada perikanan purse seine, bagan, stick held deep nets, dan lain-lain. 
Penggunaan cahaya listrik dalam kegiatan penangkapan ikan pertama kali dikembangkan di Jepang sekitar tahun 1900, kemudian selanjutnya berkembang ke berbagai belahan dunia. Indonesia sendiri, penggunaan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan tidak diketahui dengan pasti. Diduga, perikanan dengan alat bantu lampu berkembang dari bagian timur perairan Indonesia dan menyebar ke bagian barat Indonesia.

Cahaya sebagai alat bantu penangkapan ikan
Pemanfaatan cahaya sebagai alat bantu penangkapan ikan sesungguhnya sangat berkaitan dengan upaya nelayan dalam memahami perilaku ikan dalam merespon perubahan lingkungan yang ada di sekitarnya. Hampir semua ikan menggunakan matanya dalam aktivitas hidupnya, seperti memijah, mencari makan, dan menghindari serangan ikan besar atau binatang pemangsa lainnya. Cahaya merupakan faktor utama bagi ikan dalam rangka mempertahankan hidupnya. Atas dasar pengetahuan tersebut, maka nelayan menggunakan cahaya buatan unttuk mendorong ikan melakukan aktivitas tertentu.
Secara umum, respon ikan terhadap sumber cahaya dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu bersifat phototaxis positif (ikan yang mendekati datangnya arah sumber cahaya) dan bersifat phototaxis negatif (ikan yang menjauhi datangnya arah sumber cahaya). 
Ikan-ikan yang bersifat phototaxis positif secara berkelompok akan bereaksi terhadap datangnya cahaya dengan mendatangi arah datangnya cahaya dan berkumpul di sekitar cahaya pada jarak dan rentang waktu yang tertentu. Selain menghindar dari serangan predator (pemangsa), beberapa teori menyebutkan bahwa berkumpulnya ikan disekitar lampu adalah untuk kegiatan mencari makan. 
Namun demikian, tingkat gerombolan ikan dan ketertarikan ikan pada sumber cahaya bervariasi antar jenis ikan. Perbedaan tersebut secara umum disebabkan karena perbedaan faktor phylogenetic dan ekologi, selain juga oleh karakteristik fisik sumber cahaya, khususnya tingkat intensitas dan panjang gelombangnya. Hasil kajian beberapa peneliti menyebutkan bahwa, tidak semua jenis cahaya dapat diterima oleh mata ikan. Hanya cahaya yang memiliki panjang gelombang pada interval 400 sampai 750 nanometer yang mampu ditangkap oleh mata ikan. 

Pemanfaatan cahaya
Pemanfaatan cahaya untuk alat bantu penangkapan ikan dilakukan dengan memanfaatkan sifat fisik dari cahaya buatan itu sendiri. Masuknya cahaya ke dalam air, sangat erat hubungannya dengan panjang gelombang yang dipancarkan oleh cahaya tersebut. Semakin besar panjang gelombangnya maka semakin kecil daya tembusnya kedalam perairan. 
Faktor lain yang juga menentukan masuknya cahaya ke dalam air adalah absorbsi (penyerapan) cahaya oleh partikel-partikel air, kecerahan, pemantulan cahaya oleh permukaan laut, musim dan lintang geografis. Dengan adanya berbagai hambatan tersebut, maka nilai iluminasi (lux) suatu sumber cahaya akan menurun dengan semakin meningkatnya jarak dari sumber cahaya tersebut. 
Dengan sifat-sifat fisik yang dimiliki oleh cahaya dan kecenderungan tingkah laku ikan dalam merespon adanya cahaya, nelayan kemudian menciptakan cahaya buatan untuk mengelabuhi ikan sehingga melakukan tingkah laku tertentu untuk memudahkan dalam operasi penangkapan ikan. Tingkah laku ikan kaitannya dalam merespon sumber cahaya yang sering dimanfaatkan oleh nelayan adalah kecenderungan ikan untuk berkumpul di sekitar sumber cahaya. 
Untuk tujuan menarik ikan dalam luasan yang seluas-luasnya, nelayan biasanya menyalakan lampu yang bercahaya biru pada awal operasi penanggkapannya. Hal ini disebabkan cahaya biru mempunyai panjang gelombang paling pendek dan daya tembus ke dalam perairan relatif paling jauh dibandingkan warna cahaya tampak lainnya, sehingga baik secara vertikal maupun horizontal cahaya tersebut mampu mengkover luasan yang relatif luas dibandingkan sumber cahaya tampak lainnya. 
Setelah ikan tertarik mendekati cahaya, ikan-ikan tersebut kemudian dikumpulkan sampai pada jarak jangkauan alat tangkap (catchability area) dengan menggunakan cahaya yang relatif rendah frekuensinya, secara bertahap. Cahaya merah digunakan pada tahap akhir penangkapan ikan. 
Berkebalikan dengan cahaya biru, cahaya merah yang mempunyai panjang gelombang yang relatif panjang diantara cahaya tampak, mempunyai daya jelajah yang relatif terbatas. Sehingga, ikan-ikan yang awalnya berada jauh dari sumber cahaya (kapal), dengan berubahnya warna sumber cahaya, ikut mendekat ke arah sumber cahaya sesuai dengan daya tembus cahaya merah. Setelah ikan terkumpul di dekat kapal (area penangkapan alat tangkap), baru kemudian alat tangkap yang sifatnya mengurung gerombolan ikan seperti purse seine, sero atau lift nets dioperasikan dan mengurung gerakan ikan. Dengan dibatasinya gerakan ikan tersebut, maka operasi penangkapan ikan akan lebih mudah dan nilai keberhasilannya lebih tinggi.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Bioremediasi

Pengertian :
Bioremediasi merupakan pengembangan dari bidang bioteknologi lingkungan dengan memanfaatkan proses biologi dalam mengendalikan pencemaran. Bioremediasi bukanlah konsep baru dalam mikrobiologi terapan, karena mikroba telah banyak digunakan selama bertahun-tahun dalam mengurangi senyawa organik dan bahan beracun baik yang berasal dari limbah rumah tangga maupun dari industri. Hal yang baru adalah bahwa teknik bioremediasi terbukti sangat efektif dan murah dari sisi ekonomi untuk membersihkan tanah dan air yang trekontaminasi oleh senyawa-senyawa kimia toksik atau beracun.
Mikroba yang sering digunakan dalam proses bioremediasi adalah bakteri, jamur, yis, dan alga. Degradasi senyawa kimia oleh mikroba di lingkungan merupakan proses yang sangat penting untuk mengurangi kadar bahan-bahan berbahaya di lingkungan, yang berlangsung melalui suatu seri reaksi kimia yang cukup kompleks. Dalam proses degradasinya, mikroba menggunakan senyawa kimia tersebut untuk pertumbuhan dan reproduksinya melalui berbagai proses oksidasi.

Pembahasan:
Pertumbuhan bakteri biasanya dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah nilai pH, suhu, nutrien, ketersediaan oksigen, dan faktor-faktor lainnya. Dari grafik profil pertumbuhan bakteri di atas, teramati bahwa pertumbuhan bakteri diantara perlakuan 1x dan 2x berbeda dengan blanko. Titik tertinggi pertama pertumbuhan mikroba terjadi pada pengambilan sampel III atau setelah masa inkubasi 9 hari. Perbedaan pertumbuhan tersebut diduga terjadi karena adanya perbedaan produksi biosurfaktan yang dihasilkan oleh konsorsium bakteri pada masing-msing perlakuan.  Biosurfaktan berperan dalam pembentukan emulsi minyak-media yang dapat dimanfaatkan oleh bakteri sebagai sumber karbon. Data tersebut didukung oleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai indeks emulsi (IE24) tercapai maksimal setelah inkubasi selama 5-10 hari. Selanjutnya titik tertinggi kedua tercapai pada pengambilan sampel VIII untuk perlakuan 1x dan 2x. Dengan semakin bertambahnya nilai absorban diharapkan sebagai indikasi pertambahan kepadatan mikroba semakin meningkat atau dengan kata lain konsorsium mikroba telah mampu memanfaatkan minyak mentah sebagai sumber karbon dalam melipat gandakan kepadatan sel dalam media uji tersebut. Rahman et al.

Bakteri dan cendawan diketahui mampu mendegradasi hidrokarbon (Swannell & Head 1994). Di antara bakteri yang dikenal mampu mendegradasi hidrokarbon yaitu Bacillus. Bacillus merupakan bakteri pembentuk spora yang bersifat kosmopolit dan memerlukan syarat hidup yang sederhana, aerob dan fakultatif anaerob, selnya berbentuk batang, memproduksi katalase, dan bersifat gram positif (Claus & Barkley 1980). Irianto & Anggorowati 1997 serta Irianto & Andriani 1998 berhasil mendapatkan beberapa isolat Bacillus yang mampu mendegradasi hidrokarbon alifatik, sildik, dan aromatik. Bahan-bahan yang digunakan dalam penellitian ini, antara lain Bacillus UK41 dan Bacillus UK44 diisolasi dan Taman Nasional Ujungkulon. Tanah yang digunakan dalam penelitian mi berasal dan lokasi pengeboran minyak Lemigas di Cepu. Tanah sebanyak 500 g ditambahi akuades steril sehingga menjadi bubur dan ditempatkan dalam ember plastik tanpa aerasi. Dalam penelitian ini disiapkan sebanyak 48 ember. Masing-masing lumpur ditambahi 0.25% urea. Karakteristik unggul antara lain tumbuh pada media kaldu nutrien pada pH 5.0-9.5 dan suhu 15°-50°C, mampu menggunakan sumber karbon berbagai jenis KR antara lain glukosa, laktosa galaktosa, xilosa, arabinosa, sukrosa serta turunan hidrokarbon toluena, heksana, benzena, dan nafthalena.

Sumber : Nainggolan, Carolina R. BIOREMEDIASI. Jurusan Kimia Universitas Negeri Medan
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Penerapan Teknologi Biofloc Dalam Dunia Aquakultur


Teknologi bioflok adalah teknologi yang memanfaatkan hasil 
metabolisme ikan atau udang yang mengandung nitrogen untuk diubah menjadi protein yang dapat dimanfaatkan oleh ikan atau udang, sehingga ikan atau udang tersebut memperoleh protein tambahan dari bioflok disamping pakan yang diberikan. Akumulasi dari limbah nitrogen (NH4, NO2) akan dicegah oleh bioflok dengan cara menjaga C/N Rasio tetap tinggi dan mendorong penyerapan ammonium oleh mikroba. Hasil dari proses tersebut maka akan membentuk suatu komunitas mikro (bakteri, protozoa, detritus (dead body cell), jamur dan zooplankton) juga partikel serat organik yang kaya akan selulosa, partikel anorganik berupa kristal garam kalsium karbonat hidrat, biopolymer dan PHA.


Sistem kerja dari bioflok adalah mengubah senyawa organik dan anorganik yang mengandung senyawa kabon (C), hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N) dan sedikit unsur fosfor (P) menjadi gumpalan berupa bioflok dengan menggunakan bakteri pembentuk flok yang mensintesis biopolimer poli hidroksi alkanoat sebagai ikatan bioflok. Bakteri pembentuk flok dipilih dari genera bakteri yang non pathogen, memiliki kemampuan mensintesis Polihidroksi alkanoat (PHA), memproduksi enzim ekstraselular, memproduksi bakteriosin terhadap bakteri pathogen, menngeluarkan metabolit sekunder yang menekan pertumbuhan dan menetralkan toksin dari plankton merugikan dan mudah dibiakkan di lapangan.

Manfaat penggunaan teknologi bioflok apabila diaplikasikan dengan tepat adalah minimnya pergantian air atau bahkan tidak ada pergantian air dalam sistem budidaya sehingga teknologi ini ramah lingkungan. Pakan yang digunakan pun menjadi lebih sedikit ketimbang sistem konvensional lain.Telah dicoba uktuk ikan nila yang dipelihara dalam sistem bioflok akan tumbuh optimum pada tingkat pemberian pakan 1,5% dengan pakan yang mengandung 35% protein. 

  1. BIOFLOC

Suatu teknologi budidaya ikan dengan mengaplikasikan Probiotik (bakteri non pathogen) secara intensif melalui lingkungan (air dan dasar kolam) dan melalui oral (dicampur dengan pakan) yang diikuti dengan pemberian probiotik sebagai nutrisi probiotik sehingga akan terbentuk biofloc (Floc bakteri non pathogen yang menguntungkan bagi ikan ) yang merupakan salah satu sumber protein yang dapat dimakan oleh ikan.



2. TAHAPAN TERBENTUKNYA BIOFLOC

Dominasi Pitoplankton.

Dominasi Zooplankton

Dominasi Bakteri Pengurai

Masa transisi Dominasi

Dominasi Bakteri Photosyntetic

3. PROBIOTIK

Dalam akuakultur/ budidaya ikan, probiotik adalah mikroorganisme yang sengaja diberikan melalui oral atau lingkungan, dengan tujuan agar menguntungkan bagi ikan yang dipelihara.

Umumnya probiotik yang digunakan dalam budidaya ikan adalah dari golongan bakteri non pathogen (Pro: mendukung, biotic : biota kehidupan)

4. TEKNIK BUDIDAYA

a.Persiapan air untuk pembesaran lele ; masukan air dengan ketinggian 80-100 cm, hari ke 2 masukkan probiotik 5 ml/m3,  hari ke 3 masukkan prebiotik : Molase 250 ml/m3, malam harinya tambahkan dolomite 150-200 gram/m3 (diambil airnya saja) selanjutnya diamkan air media selama 7-10 hari,  selanjutnya dilakukan penebaran benih lele.
b.Penebaran benih lele ; Benih dari induk unggulan (dari satu induk yang sama), benih harus sehat dengan indikasi gerakan aktif, ukuran dan warna seragam, organ tubuh lengkap, bentuk proorsional ukuran 4-6cm / 5-7cm, setelah penebaran keesokan harinya tambahkan probiotik 5 ml/m3.
c.Aplikasi susulan probiotik ; Sebelum benih ikan berukuran 12 cm, setiap 10 hari sekali masukan probiotik 5 ml/m3, Ragi tempe 1 sendok makan/m3  Ragi tape 2 butir/m3 dan malam harinya tambahkan dolomite 200-300 gr/m3 (diambil airnya saja)  Setelah ukuran ikan >12 cm setiap 10 hari sekali masukan probiotik 5 ml/m3.\, ragi tempe 2-3 sendok makan/m3, ragi tape 6-8 butir/m3 dan malam harinya tambahkan dolomite 200-300 gr/m3 (diambil airnya saja) Pemberian ragi tempe dan ragi tape dilarutkan kedalam air.


5. PENGELOLAAN PAKAN

Gunakan pakan yang berkualitas, ukuran pakan disesuaikan dengan bukaan mulut ikan, pakan diberikan pagi – sore hari, dosis pakan 80%dari daya kenyang, dipuasakan seminggu sekali, pakan di fermentasi dengan probiotik atau di campur probiotik dan pengurangan dosis pakan sampai 30% jika sudah terbentuk floc.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

PENEMUAN MONSTER LAUT (OARFISH) DI CALIFORNIA

Catalina Island Marine Institute/news.com.au



California - Seorang peneliti kelautan di California, Amerika Serikat mendapat temuan menakjubkan. Jasad seekor hewan laut yang menyerupai ular dengan panjang tubuh mencapai 5 meter ditemukan si peneliti ketika sedang asyik snorkelling di pantai California.

Jasmine Santana dari Catalina Island Marine Institute (CIMI) membutuhkan bantuan lebih dari 15 orang untuk membawa bangkai ikan raksasa tersebut ke pinggir pantai pada Minggu (13/10) waktu setempat. Makhluk laut yang memiliki nama oarfish ini tergolong hewan langka yang sangat jarang terlihat.

Tim dan rekan Jasmine dari CIMI menyebut temuan ini sebagai temuan sekali dalam seumur hidup. Demikian seperti dilansir news.com.au, Rabu (16/10/2013).

"Kami sama sekali tidak pernah melihat seekor ikan dengan ukuran sebesar ini. Oarfish terakhir yang kami lihat hanya berukuran sekitar 3 kaki (1 meter)," ucap kapten senior dari Tole Mour, kapal pelatihan milik CIMI, Mark Waddington.

Oarfish yang masuk dalam kategori ikan ini diketahui hidup di perairan yang sangat dalam sehingga sangat jarang terlihat. Oarfish yang sempat masuk dalam kategori monter laut ini bisa menyelam hingga ke dalam lebih dari 914 meter di bawah laut.

Karena jarang ditemui dalam keadaan hidup, oarfish belum pernah dipelajari secara mendalam. Beberapa kali oarfish ditemukan tak bernyawa di perairan dangkal.

Dalam temuan ini, oarfish ini diperkirakan mati karena penyebab alami. Sampel jaringan tubuh oarfish tersebut dan juga rekaman video telah dikirimkan kepada ahli biologi pada University of California untuk dipelajari lebih mendalam

Kepada Waddington, Jasmine menuturkan temuan tersebut berawal ketika dirinya melihat ada sesuatu yang berkilauan di dalam laut saat menyelam di perairan sedalam 9 meter. Temuan ini terjadi di wilayah Toyon Bay, Santa Catalina Island.

"Dia (Jasmine-red) bilang, 'Saya harus menyeret benda ini keluar dari sana atau tidak ada seseorangpun yang mempercayaiku," terang Waddington mengutip pernyataan Jasmine.

Jasmine sempat menyeret ekor bangkai oarfish tersebut sejauh 23 meter. Para staf CIMI dan rekan-rekanya yang lain kemudian membantunya menyeret bangkai oarfish tersebut ke tepi pantai.

Bangkai oarfish ini dipamerkan kepada mahasiswi yang sedang belajar di CIMI. Kemudian bangkai tersebut akan dikuburkan di dalam pasir pantai hingga membusuk. Nantinya kerangka oarfish tersebut akan disusun menjadi satu untuk dipamerkan di CIMI.

Ikan jenis oarfish ini tergolong ikan yang hidup di perairan dalam dan bisa tumbuh hingga mencapai panjang lebih dari 15 meter. Ikan ini disebut sebagai ikan terpanjang di dunia. Karena ukurannya yang besar dan jarang terlihat sehingga oarfish sempat diyakini sebagai legenda monster laut di dunia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

PERAN BIOTEKNOLOGI DALAM PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA

Seperti kita ketahui bahwa Sub-sektor Perikanan Budidaya saat ini menjadi barometer utama dalam menopang pembangunan perikanan nasional seiring dengan fenomena bahwa produksi ikan hasil tangkapan menunjukan trend yang stagnan bahkan mengalami penurunan produksi dari tahun ke tahun, hal ini menjadi sebuah tantangan besar bagi Ditjen Perikanan Budidaya dalam mewujudkan Perikanan Budidaya sebagai ujung tombak dalam menggerakan perekonomian nasional dan ketahanan pangan masyarakat. Dalam upaya mewujudkan harapan besar tersebut, maka diperlukan sebuah kebijakan strategis yang terimplementasi secara nyata melalui kerjasama dan sinergitas dari seluruh stakeholders perikanan budidaya.



Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya telah menetapkan arah kebijakan dalam rangka Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya. Kebijakan tersebut ditempuh melalui : (1) Pengembangan sistem produksi perbenihan ikan; (2) Pengembangan sistem produksi pembudidayaan ikan; (3) Pengembangan sistem prasarana dan sarana budidaya; (4) Pengembangan sistem usaha pembudidayaan ikan; (5) Pengembangan sistem kesehatan ikan dan lingkungan; (6) Peningkatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Ditjen Perikanan Budidaya ; (7) Pengawalan dan penerapan teknologi terapan adaptif perikanan budidaya



Strategi pengembangan perikanan budidaya dilaksanakan melalui peningkatan produksi, produktivitas dan daya saing yang  berbasis ilmu pengetahuan melalui industri perikanan budidaya yang akan berperan sebagai penghela percepatan sistem produksi perikanan nasional berorientasi pada trend pasar global dan lokal.



Untuk itu sebagai langkah awal Direktorat Jenderal Perikanan telah fokus pada peningkatan produksi melalui pengembangan industrialisasi perikanan budidaya yaitu pada komoditas unggulan, antara lain udang, rumput laut, bandeng dan patin yang merupakan komoditi perikanan dengan potensi pengembangan yang besar. Khusus untuk kegiatan industrialisasi udang, diupayakan dengan melakukan revitalisasi tambak melalui perbaikan infrastruktur berupa saluran primer, sekunder dan tersier, sehingga diharapkan dapat meningkatkan performance kawasan pertambakan terutama di daerah Pantura Jawa. Dalam pemanfaatannya, untuk lebih mengoptimalkan lahan pertambakan tersebut pemerintah berupaya mengajak keterlibatan masyarakat pembudidaya, swasta dibidang perikanan budidaya dan juga perbankkan untuk dapat bersinergi dalam upaya peningkatan produksi perikanan yang memiliki nilai tambah dan daya saing.



Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya telah mencanangkan program Rencana aksi Industrialisasi Perikanan Budidaya  yaitu melalui  Gerakan Pengembangan Industrialisasi Perikanan Budidaya atau disingkat GERBANG SI MINA JAYA yang dilaksanakan secara terintegrasi lingkup Kementrian Kelautan dan Perikanan serta lintas Sektor lainnya untuk sinergisitas pencapaian tujuan.

Rencana aksi Gerakan Pengembangan Industrialisasi Perikanan Budidaya tersebut antara lain : (a) Penyediaan sarana dan prasarana (infrastruktur) melalui Gerakan Revitalisasi Tambak (GERVITAM); (b) Pemanfaatan dan pengembangan teknologi budidaya ikan melalui perekayasaan teknologi adaptif dan inovasi teknologi baru yang dikembangkan oleh Unit Pelaksana Teknis; (c) Pengembangan benih unggul, melalui penerapan cara budidaya pembenihan yang baik (CPIB); (d) Pengembangan Induk Unggul, melalui pengembangan brood stock center dan pelaksanaan Gerakan Penggunaan Induk Unggul (GAUL); (e) Penerapan teknologi budidaya anjuran berbasis Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB) melalui sertifikasi CBIB teradap unit usaha budidaya; (f) Pencegahan penyakit dan menajamen lingkungan, antara lain melalui Gerakan Vaksinasi Ikan (GERVIKAN) dan Pos Pelayanan Kesehatan Ikan dan Lingkungan Terpau (POSIKANDU); (g) Penyediaan pakan yang efisien dan pengawasan peredaran pakan; (h) Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Perikanan Budidaya dan pendampingan akses permodalan pada perbankkan dan lembaga keuangan lainnya.



Dalam percepataan industrialisasi perikanan budidaya, salah satu upaya yang harus didorong adalah pengembangan dan penerapan bioteknologi akuakultur. Bioteknologi akuakultur yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan tersebut antara lain melalui kajian aspek-aspek genetika, teknologi reproduksi, nutrisi, wadah budidaya, penyakit dan lingkungan. Pemerintah dalam hal ini akan terus mendorong pengembangan riset dan perekayasaan teknologi akuakultur yang dalam implementasinya akan melibatkan unsur dari perguruan tinggi.



Peningkatan produksi harus disertai dengan upaya efisiensi, peningkatan mutu dan keamanan hasil perikanan serta ramah lingkungan untuk keberlanjutan usaha budidaya. Peran Bioteknologi dalam upaya penyediaan induk dan benih unggul, efisiensi penggunaan pakan, serta menjaga kualitas perairan dilakukan melalui moderenisasi proses budidaya yang harus menjadi bagian integral dari pengembangan industrialisasi perikanan budidaya untuk menghasilkan nilai tambah dan meningkatkan daya saing.



Dalam berbagai hal beberapa produk perikanan melalui Bioteknologi Genetik pada ikan dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan, daya tahan terhadap penyakit dan lingkungan seperti berikut ini :

a)     Pembenihan selektif : Peningkatan tingkat pertumbuhan 5-20% pada ikan budidaya seperti Salmon, Nila dan catfish.

b)     Manipulasi Kromosom : Menghasilkan organisme ‘triploid’ digunakan untuk meningkatkan perkembangan Ikan

c)     Budidaya Sejenis (monosex culture) : Manfaat besar dari teknik ini yaitu semua populasi jantan bisa diproduksi untuk generasi seterusnya tanpa menggunakan hormon

d)     Hibridasi : Hibridasi bisa digunakan juga untuk menghasilkan anakan satu jenis kelamin

e)     Perkembangan Teknologi Transgenik  atau Modifikasi Organisme secara Genetik (GMOs).  Telah dibuktikan dengan peningkatan tingkat pertumbuhan yang tinggi pada ikan mas, catfish, salmom, ikan nila, mudloach,dan trout

f)      Bioteknologi sumber bahan baku pakan ikan yang ramah lingkungan;



Penerapan Bioteknologi akuakultur yang telah mampu diterapkan sebagai hasil dari proses riset dan perekayasaan diarahkan dalam upaya meningkatkan efisiensi, peningkatan produksi dan nilai tambah. Inovasi bioteknologi akuakultur yang telah diterapkan antara lain: (1) Dalam menghasilkan induk dan benih unggul telah dilakukan melalui perekayasaan genetic. Upaya tersebut telah menghasilkan induk ikan unggul seperti Lele Sangkuriang, Nila Gesit/sultana/Nirwana, Udang vaname Nusantara, Kerapu Cantang, Kerapu cantik dll; (2) Untuk lebih mempercepat pertumbuhan benih ikan unggul tersebut, dilengkapi dengan perlakuan vaksinasi dan perendaman growth stimulator; (3) Untuk menjaga kualitas air pada pengelolaan media budidaya menggunakan perlakuan probiotik yang dilengkapi dengan system bioflok; (4) Penggunaan pakan buatan yang dilengkapi dengan enzim dalam upaya efisiensi pemanfaatan pakan selain bioflok yang juga berfungsi sebagai pakan alami. Upaya-upaya tersebut telah secara nyata mampu meningkatkan produksi, produktivitas dan hasil produksi yang berdaya saing.



Penerapan Bioflok pada proses produksi ikan lele dan udang secara nyata telah mampu meningkatkan efesiensi dan produktivitas. Bioflok berfungsi dalam men-treatment limbah budidaya secara langsung di   dalam  petak budidaya agar tidak menjadi racun dengan mempertahankan kecukupan oksigen    mikroorganisme, dan rasio C/N dalam tingkat tertentu. Serta mereduksi bahan-bahan organik dan senyawa beracun yang terakumulasi dalam air pemeliharaan, juga sebagai pakan alami bagi ikan/udang. Melalui Penerapan bioflok pada budidaya ikan lele, mampu meningkatkan efesiensi pakan dengan tingkat FCR mencapai 0,8. Dengan begitu penerapan bioflok secara langsung telah mampu meminimalisir cost production secara signifikan.

Disamping itu, sejalan dengan prinsip Blue Economy, maka usaha komoditas perikanan budidaya harus mampu memberikan jaminan bahwa aktivitas budidaya telah mempertimbangkan nilai-nilai lestari (sustainable values) dan pro-enviroment serta memberikan dampak terhadap munculnya multiple cash flowsebagai unit usaha turunan yang potensial untuk dikembangkan. Melalui peran bioteknologi, pada komoditas rumput laut misalnya telah mampu menghasilkan berbagai produk turunan yang sangat kompleks peruntukannya baik untuk bahan baku industri (seperti kertas, cat, dll), farmasi (obat, dan kosmetik), maupunfood grade (bahan baku makanan). Penerapan budidaya udang secara terintegrasi (Shrimp Farming Incorporated) melalui penerapan teknologi Close System dengan plastikisasi telah dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan efesiensi dan produktivitas yang berpegang pada prinsip ramah lingkungan (Pro-enviroment). Pada budidaya patin misalnya, saat ini telah mulai diterapkan system budidaya dengan kolam dalam, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas. Kesemua itu merupakan upaya-upaya pemanfaatan bioteknologi akuakultur dalam mendukung industrialisasi perikanan budidaya.

Peranan Bioteknologi dalam peningkatan produksi perikanan budidaya telah secara nyata menghasilkan berbagai keuntungan baik dari aspek produksi maupun aspek ekonomi. Dilihat dari aspek produksi, telah secara nyata mampu meningkatkan produksi dan produktivitas sedangkan dari segi ekonomi penerapan bioteknologi akuakultur telah mampu meningkatkan efisiensi biaya produksi serta meningkatkan margin keuntungan dalam usaha budidaya ikan sehingga perlunya dicarikan terobosan baru untuk menghasilkan inovasi yang sangat bermanfaat dalam bidang perikanan pada khususnya dan bidang lainnya pada umumnya.

sumber : Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya http://www.djpb.kkp.go.id/berita.php?id=838
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Diberdayakan oleh Blogger.